Akankah Newsom Ikuti Jejak Schwarzenegger Selesaikan Gugatan Fasilitas Sekolah?
Gubernur Gavin Newsom saat ini menghadapi dilema yang mirip dengan apa yang pernah dihadapi mantan Gubernur Arnold Schwarzenegger dua dekade lalu. Keputusan penting ini berkutat pada bagaimana menangani gugatan yang menuntut negara bagian untuk memperbaiki kondisi fasilitas sekolah yang dianggap tidak sehat dan tidak memadai. Ini bukan hanya tentang perbaikan fisik, tetapi juga tentang kesetaraan akses terhadap lingkungan belajar yang layak.
Gugatan terbaru, Miliani R. v. State of California, yang diajukan pada akhir Oktober, secara spesifik menyerukan Pengadilan Tinggi Alameda County untuk menyatakan sistem pendanaan obligasi negara bagian untuk renovasi sekolah sebagai inkonstitusional. Gugatan ini berargumen bahwa, dengan sedikit pengecualian, sistem hibah pendamping yang ada cenderung menguntungkan distrik-distrik kaya dengan basis pajak properti yang besar. Akibatnya, banyak sekolah di distrik miskin dengan kondisi yang memprihatinkan justru terabaikan karena ketidakmampuan mereka untuk memaksimalkan hibah pendamping dari negara bagian.
Mari kita melihat ke belakang, pada tahun 2004, ketika Gubernur Schwarzenegger, yang saat itu masih tergolong baru di dunia politik, mengambil langkah cepat. Dalam waktu sekitar enam bulan setelah menjabat, ia menyelesaikan gugatan yang telah berlarut-larut selama lebih dari tiga tahun di bawah kepemimpinan pendahulunya, Gray Davis. Perjanjian penting yang ia negosiasikan pada tahun 2004 itu tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga mendefinisikan ulang pengawasan negara terhadap kondisi fasilitas sekolah secara keseluruhan. Langkah ini menunjukkan bagaimana kepemimpinan yang tegas dapat membawa perubahan signifikan dalam waktu singkat.
Gugatan yang lebih baru ini memiliki kemiripan dengan gugatan class action Eliezer Williams v. State of California pada tahun 2000. Gugatan Williams menyoroti kondisi sekolah yang mengerikan, termasuk adanya hama, masalah pemanas dan pendingin udara yang rusak, toilet yang tidak berfungsi, hingga kelas-kelas yang berjamur. Keduanya mengajukan pertanyaan fundamental: apakah kewajiban konstitusional negara untuk menyediakan kesempatan belajar yang setara bagi semua siswa mencakup bangunan sekolah yang aman, memadai, dan dilengkapi dengan baik? Peter Schrag, editor editorial Sacramento Bee yang kini pensiun, pernah menulis pada Mei 2000 bahwa kondisi sekolah yang buruk ini seharusnya sudah diketahui banyak pihak, dan pertanyaan besar adalah mengapa hal ini ditoleransi selama bertahun-tahun.
Pada saat itu, Gubernur Davis menentang gugatan Williams, berargumen bahwa tanggung jawab perbaikan sekolah berada di tangan distrik lokal sesuai dengan kode kesehatan dan keselamatan negara bagian. Bahkan, firma hukum yang dipekerjakannya menggugat balik 18 distrik. Proses pengadilan diwarnai dengan kesaksian emosional dari para siswa. Seorang siswa bernama Alondra Jones, yang ditanya apakah kotoran tikus di kelasnya memengaruhi kemampuannya belajar, dengan tegas menjawab, "Hanya karena negara gagal, bukan berarti saya harus." Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya dampak kondisi fasilitas terhadap pengalaman belajar siswa.
Situasi berubah drastis setelah Schwarzenegger terpilih. Ia, yang juga pendiri organisasi nirlaba After-School All-Stars, telah berkeliling California dan menyaksikan langsung kondisi sekolah yang memprihatinkan, seperti jendela rusak yang ditutupi sprei atau toilet yang tidak berfungsi. Ia menyadari adanya ketidakadilan. Dalam beberapa hari setelah pemilihan, ia menghubungi pengacara penggugat dan menyampaikan komitmennya untuk memberikan kesempatan yang adil bagi semua anak, meskipun ia memiliki pandangan politik yang berbeda. Ini adalah momen penting yang menunjukkan kemauan politik untuk bertindak.
Setelah itu, segalanya bergerak cepat. Dalam beberapa bulan, para pengacara dari kedua belah pihak mencapai kesepakatan. Legislatif kemudian mengesahkan empat undang-undang yang mengalokasikan sekitar $1 miliar (setara dengan $1,7 miliar saat ini) untuk perbaikan darurat di sekolah-sekolah yang paling membutuhkan dan pengadaan buku pelajaran. Kesepakatan ini juga mencakup elemen-elemen kunci untuk memastikan akuntabilitas, seperti:
- Persyaratan pelaporan baru untuk kartu laporan akuntabilitas sekolah tahunan.
- Proses pengaduan yang jelas, dengan pemberitahuan di setiap kelas yang menginformasikan siswa dan orang tua tentang cara melaporkan kondisi sekolah yang bermasalah atau kekurangan bahan ajar.
- Inspeksi tahunan setiap sekolah oleh kantor pendidikan daerah.
Meskipun penyelesaian gugatan Williams merupakan solusi pragmatis, itu bukanlah solusi permanen untuk ketidaksetaraan yang mendasari – yakni ketergantungan yang tidak proporsional pada perbedaan besar dalam kekayaan properti distrik sebagai dasar pendanaan perbaikan dan renovasi sekolah. Sejak tahun 2000, pemilih negara bagian telah menyetujui obligasi sebesar $44 miliar untuk konstruksi dan renovasi sekolah TK-12, namun jumlah ini masih kurang dari 20% dari apa yang dikeluarkan distrik-distrik individual dalam obligasi mereka sendiri. Sistem hibah pendamping yang ada masih menguntungkan distrik-distrik kaya. Ini yang menjadi fokus gugatan Miliani R., menyoroti bahwa banyak fasilitas sekolah di distrik yang disebutkan dalam gugatan tersebut, seperti Del Norte dan San Bernardino, masih dalam kondisi memprihatinkan dan semakin menua.
Kini, dengan penasihat pendidikan yang memiliki pengalaman langsung dalam gugatan Williams, termasuk Brooks Allen yang kini menjabat sebagai penasihat pendidikan Newsom, Gubernur Newsom dihadapkan pada pilihan. Akankah ia mengambil langkah proaktif seperti Schwarzenegger untuk segera menyelesaikan masalah ini dan memastikan fasilitas sekolah yang layak untuk semua siswa, atau akankah ia menyeretnya seperti pendahulunya? Ini adalah kesempatan besar untuk membentuk masa depan pendidikan di California.