Pelajar K-12 Pasca-Pandemi: Fokus Pemulihan untuk yang Lebih Tua
Pandemi COVID-19 memang mengubah banyak hal dalam hidup kita, termasuk dunia pendidikan. Banyak dari kita mungkin berpikir bahwa anak-anak usia TK atau SD yang paling merasakan dampaknya. Tapi, tahukah kamu kalau justru siswa-siswa yang lebih tua, dari SD akhir sampai SMA, mungkin yang paling terpengaruh?
Yuk, kita bedah hasil penelitian dari Lauren Bauer, seorang peneliti di Brookings Institution. Beliau punya pengalaman menarik dari 'learning pod' atau kelompok belajar kecil yang ia ikuti saat pandemi. Awalnya, ia melihat kalau anak-anak yang lebih besar di kelompok itu justru tampak lebih kesulitan beradaptasi dengan semua perubahan yang ada. Orang tua sering punya ekspektasi lebih tinggi pada mereka, dibandingkan anak-anak TK yang mungkin bisa lebih banyak bermain tanpa merasa terlalu terbebani.
Ternyata, pengamatan Bauer ini bukan sekadar perasaan belaka. Sebuah laporan terbaru dari The Hamilton Project di Brookings menguatkan hal tersebut. Mereka menemukan bahwa semakin tua usia seorang siswa saat pandemi melanda, semakin besar penurunan performa belajar mereka setelah penutupan sekolah. Bayangkan, siswa yang waktu pandemi di kelas 4 SD (dan sekarang mungkin sudah kelas 9) ternyata performanya lebih menurun dibanding siswa yang waktu itu masih TK (dan sekarang kelas 4).
Data-data nasional juga menunjukkan hal serupa. Penilaian standar seperti NAEP (National Assessment of Educational Progress) di Amerika Serikat mencatat penurunan skor matematika dan bahasa Inggris yang signifikan. Ini jadi alarm bagi kita semua bahwa celah pembelajaran akibat dampak pandemi itu nyata dan masih terasa sampai sekarang. Bahkan, dana bantuan pemulihan dari pemerintah untuk sekolah-sekolah juga sudah habis, lho. Jadi, tantangan yang dihadapi sekolah dan siswa semakin besar.
Para peneliti di Brookings melacak perjalanan belajar siswa dari TK hingga kelas 7 selama tahun ajaran 2019-2020. Mereka melihat bagaimana tingkat kemahiran siswa berubah seiring waktu. Hasilnya? Penurunan mendalam terjadi di kedua mata pelajaran, tapi matematika jadi yang paling terpukul. Kenapa? Mungkin karena matematika itu sifatnya berjenjang, satu konsep dibangun di atas konsep sebelumnya. Kalau ada bagian yang terlewat, efeknya bisa domino.
Nah, dari sini kita bisa belajar. Penting banget untuk tidak cuma fokus pada siswa-siswa termuda saat mencoba mengejar ketertinggalan pasca-pandemi. Siswa-siswa yang sekarang di SMP dan SMA juga butuh dukungan ekstra dan perhatian khusus. Mereka adalah generasi yang akan masuk ke dunia kerja dan pendidikan tinggi dalam waktu dekat, jadi masa depan mereka sangat bergantung pada bagaimana kita mendukung mereka sekarang.
Meskipun beberapa negara bagian sedang mencoba metode penilaian baru yang katanya lebih akurat, laporan Brookings ini menunjukkan bahwa besarnya kerugian belajar akibat pandemi ini luar biasa. Bahkan upaya untuk "memudahkan" tes pun tidak banyak membantu menutupi dampak yang sudah terjadi. Jadi, fokus kita harus benar-benar pada pemulihan belajar, bukan sekadar mengubah standar penilaian.